fbpx

Pentingnya penggunaan Data yang Tepat (Right Data) dalam bisnis

Judul diatas agak sedikit berbeda dengan materi yang saya bawakan saat memberikan orasi di acara “Future of Ecommerce 2019” yang baru saja berakhir, namun secara konteks tulisan berikut ini adalah sama.

5 tahun terakhir ini dunia bisnis ramai membicarakan tentang manfaat dari “Big Data” disertai dengan jargon-jargon baru seperti “Data Analytics”, “Remarketing” dan lain sebagainya hingga “Hoax” serta skandal yang menimpa Facebook atas pemanfaatan data pelanggan mereka oleh Cambridge Analytica. Big Data menjadi penting dan diperlukan, begitu ungkapan para konsultan bisnis yang dibayar tinggi oleh korporasi untuk proyek “Digital Transformation”.

Oke, sebelum kita melangkah lebih jauh berikut pendapat saya tentang Big Data.

Big Data itu seperti gadis cantik tetangga sebelah rumah. Semua orang membicarakannya, semua bilang sudah mendekatinya, beberapa bahkan biang sudah menciumnya, tapi belum ada satupun yang menikahinya.

Sementara untuk menikahinya diperlukan langkah yang lebih cerdas, untuk mendekatinya pun dibutuhkan beberapa informasi penting seperti; siapa namanya, berapa usianya, sekolahnya dimana, apa pekerjaannya dan apa kesukaannya. Tanpa data tersebut setiap orang akan terlihat bodoh di hadapannya. Pendekatan ini yang saya maksud sebagai penggunaan dan pemanfaatan Data dan Informasi yang Tepat “the Right Data”. Bisa dibayangkan tanpa mengetahu sang gadis alergi terhadap jenis makanan tertentu bisa membuat kencan makan malam pertama berantakan. Nah, The Right Data sangat berguna dan bermanfaat. Di tangan yang tepat menjadi sangat strategis dan bisa memenangkan persaingan, di tangan yang salah bisa menggulingkan kekuasaan yang benar atau untuk korupsi besar-besaran. Artinya, data sebaik apapun atau sejelek apapun jika itu adalah data yang tepat akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui penggunaan media yang tepat sehingga pesan tersebut menjadi absolut sah atau benar.

Data sebaik apapun atau sejelek apapun jika itu adalah data yang tepat akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui penggunaan media yang tepat sehingga pesan tersebut menjadi absolut sah atau benar.

Kenapa demikian? Anda perlu membaca buku oleh Marshall Mcluhan bertajuk “The Medium is the Message”. Di dalam buku, Marshall menyampaikan salah satunya tentang pemanfaatan media yang tepat atas dasar informasi yang dimiliki walau informasi tersebut tidaklah lengkap namun tepat oleh pemiliknya sehingga jika menggunakan media yang benar maka akan menjadi pesan yang benar oleh mereka yang menjadi pembaca, penonton atau pendengarnya.

Banyak informasi di “Big Data” tidak berguna. 1Lalu bagaimana data yang benar itu sendiri? Penggunaan data yang benar berbeda dengan data yang akurat. Akurat pasti benar, namun benar belum tentu akurat. Jenis informasi apa yang akurat? Data kesehatan pasien adalah informasi yang benar dan harus akurat. Seorang dokter bisa dinyatakan bersalah atau melakukan tindakan malpraktek jika salah menerima dan membaca data pasien yang tidak akurat. Kedua, data finansial. Inipun harus akurat walau tidak harus seluruhnya benar, kontradiksi? Iya, keakuratan data audit finansial yang menentukan seseorang melakukan tindakan korupsi belum tentu dinyatakan benar tanpa adanya bukti pendukung lainnya yang akan menentukan seseorang bersalah secara pidana ataupun perdata.

Jadi, Big Data bukan sesuatu yang seksi, itu hanyalah bank data besar yang mengumpulkan dan menampung data yang sudah di “mining” dari beragam sumber dan siap untuk di-olah. Mengolah data adalah pekerjaan yang seksi karena membutuhkan keahlian tersendiri dan bahkan ilmu baru atau gelar profesor untuk bisa secara sistematis melakukannya. Oleh karenanya pekerjaan seorang “Data Scientist” itu mahal bayarannya dan keahlian mereka sekarang sudah mulai di replikasi oleh keberadaan AI (Artificial Intelligent) dan Machine Learning agar proses yang memakan waktu tersebut bisa dipercepat.

Bayangkan penggunaan Big Data dalam kehidupan sehari-hari, anggaplah Big Data sebagai gosip yang terkumpul tanpa mengetahui benar atau tidaknya. Lalu datanglah seorang Data Scientist yang memilah, menyeleksi dan melakukan cek-ricek atas kebenaran setiap data sebelum disajikan sebagai “The Right Data” agar terhindar dari gosip maupun “hoax”.

Bagaimana penggunaan data yang tepat dalam bisnis? Pertama, kumpulkan data dan informasi terlebih dahulu melalui proses “Data Mining”. Ini bisa dilakukan berbaur dengan kegiatan marketing atau kegiatan interaktif seperti FGD (Focus Group Discussion), Interview dan lain sebagainya. Data Mining harus memilki arah dan tujuan jangan terlalu melebar. Apa yang ingin Anda cari dari sumber data? Apakah status sosial mereka atau pemanfaatan ojek untuk perjalanan ke tempat kerja? Apapun yang Anda ingin tahu dari nara sumber akan menentukan arah “The Right Data” yang ingin dibangun.

The Right Data dalam dunia usaha penting adanya karena akan menentukan sikap dalam pengambilan keputusan. Bisa dibayangkan jika Anda bingung dalam mengambil keputusan karena kekurangan data? Itu sama seperti orang yang tersesat sampai dia membuka Waze atau Google Map, jaman dulu kita disarankan untuk tidak “Malu bertanya” atau akan “Sesat di Jalan”.

Perlu juga kita pahami bahwa “The Right Data” sekecil apapun bisa digunakan untuk mengelabui musuh. Contoh penggunaan “The Right Data” dalam ilmu militer bisa Anda baca di buku “Art of War” oleh Sun Tzu. Perang gerilya merupakan salah satu strategi dan taktik perang yang efisien dan efektif, metode yang sama juga sering dimanfaatkan oleh pebisnis dan marketer yang dikenal sebagai “Guerilla Marketing”. Untuk memenangkan perang dibutuhkan informasi yang tepat, data yang benar namun tidak harus akurat walau persenjataan modern dibuat dengan tingkat keakuratan yang tinggi walau data intelijennya tidak selalu benar.

Bagaimana jika Anda adalah pengusaha kecil atau mikro dimana akses terhadap data termasuk langka dan mahal untuk memanfaatkan jasa “Data Mining”, apakah Anda termasuk yang merugi? Tidak! Anda bisa melakukannya dengan lebih praktis yaitu dengan cara melakukan; Observasi, Komunikasi, Dokumentasi dan Analisa tanpa harus menyewa konsultan. Observasi, gunakan mata hati dan indra mata Anda sendiri. Komunikasi, berbicaralah dan bertanyalah kepada semua orang terutama orang yang tepat menurut Anda. Dokumentasi, catat dan simpan semua hasil. Analisa, lakukan analisa atas penemuan Anda dan ambillah keputusan. Mudah bukan? Hal yang sama dilakukan di militer dari dahulu.

Kesimpulannya, apakah masih ingin terlibat dalam eforia Big Data atau sudah mulai memanfaatkan The Right Data?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *