fbpx

Masyarakat Indonesia seperti saya ini adalah tipikal pribadi yang doyan sekali nongkrong alias bercengkrama dengan sahabat, apalagi jika diiringi dengan tembang melankolis masa muda dulu (berasa tua euy…) dan segelas atau lebih cangkir kopi hitam pahit pekat. Nikmat!

Jaman sekarang untuk nongkrong banyak sekali pilihan tempatnya, beragam gaya interior wadahnya, menu makanan hingga aroma yang menggoda dan layanan yang memukau (kalo layanannya menggoda, bukan buat nongkrong).

Sering kita ini sehabis sehari penuh penat bekerja menghabiskan sisa waktu yang mungkin terbuang percuma di kemacetan dengan mampir sejenak nongkrong bareng teman maupun kolega. Apalagi jika masih di awal bulan alias di kala dompet masih tebal, sudah pasti kawasan elit lah yang kita bidik untuk wadah berkumpul. Jika musim paceklik tiba, bergeserlah kita terutama para pria dari kafe di daerah mentereng ke warung di samping kantor atau lebih tepatnya di dalam gang. Kita nge-warung! Atau warung-an dulu!

Nah, menurut kebanyakan dari kita-kita ini warung itu kusam, dekil karena posisinya yang kebanyakan memang tidak menarik atau istilah kekiniannya “nggak level”. Betul, mayoritas dari warung di Indonesia apalagi di kota-kota besar adalah seperti itu adanya, tapi jangan salah mereka sekarang sudah berbenah walau rasionya masih sedikit, para pemilik warung sudah sadar diri kalo bisnisnya mau berkembang pesat ya kudu berubah.

Perubahannya kira-kira seperti apa ya? Well, sesederhana mungkin kebanyakan dan dimulai dari pelayanan. Pelayanan yang wow gitu? Belumlah tapi pelayanan dengan hati, senyum, keramahan mulai tampak dari wajah para pemilik dan stafnya. Enak kan kalo sedang jenuh mampir ke warung langsung disambut senyum dan disapa? Pastilah, saya aja senang. Sedangkan kita sedang capek lalu tidak disapa dan dikasih wajah kusem sudah pasti makin jutek tho? Akhirnya niatnya mau beli lebih malah kurang atau bahkan tidak jadi.

Warungan adalah ciri khas dan bagian dari budaya kita sejak lama. Istilah ini sebenarnya diberikan saat pelanggan mendatangi warung dengan niat membeli bahan pokok namun dilanjutkan dengan percakapan yang berujung ngobrol dengan pemilik warung. Satu persatu pelanggan lainnya yang memang bertetanggaan muncul dan ikut nimbrung. Kopi dan cemilan sekedarnya pun dikeluarkan oleh pemilik warung, makanya jangan heran kalo di warung yang cenderung jadi tempat nongkrong selalu ada cemilan; mulai dari pisang bakar, tahu goreng hingga indomie rebus jika perlu.

Karena pemiliknya ramah para konsumen pun tentunya mau untuk bercakap-cakap ringan, semakin akrab maka kualitas waktu kunjungan makin panjang dan penjualan pun meningkat tentunya. Cukup dengan senyum, sapa dan santun saja sudah bisa bikin konsumen mau warungan di tempat Anda, apalagi jika bersih, rapi dan ditata lebih cantik, bisa ngafe ujungnya.

Sekarang mulai banyak warung yang memberikan fasilitas lebih ke konsumennya yang doyan ngewarung; mulai dari WiFi gratis, tontonan bola di tv (kalo lagi liga ramenya ampun deh) sampai ngecas hape gratis selama pesan kopi atau indomie. Warungan jaman sekarang sudah sarat teknologi atau setidaknya menunjang keberadaan dan kepemilikan teknologi dari pelanggan mereka. Warung-warung sekarang pun juga mulai didukung oleh banyak perusahaan rintisan seperti Geraiku dan lainnya. Niat baik dan misi sosial yang diemban para perusahaan rintisan juga memberikan manfaat luar biasa kepada warung-warung ini; contohnya: Geraiku bahkan membantu pemilik warung kemudahan akses ke dana usaha agar mereka bisa membenahi warungnya, lalu akses ke teknologi untuk konsumen yang males warungan bisa beli rokok yang dipesannya dari rumah hingga akses ke barang murah dan pasar. Nah, pasar menjadi yang paling menarik karena teknologi bisa membantu mempromosikan keberadaan warung di suatu tempat ke calon konsumen di area tertentu, untuk apa? Untuk warungan tentunya.

Kafe berkelas masih menang dalam hal kualitas maupun kenyamanan, tapi jangan anggap enteng warung, mereka bisa menyalip pebisnis gedongan dengan jika diberikan akses yang sama. Dan dengan 3juta lebih warung di Indonesia saja, bisa terbayang kan tiap masuk minggu kedua hingga akhir bulan kalo kita akan lebih sering warungan daripada kafean…

~ Jakarta, tempat warungan terbanyak, Januari 2019.

#warungTetangga #belanjaDiWarungTetangga


*) Artikel ini ditulis sebelumnya di Medium

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *